Perjalanan melelahkan tuk menjemput bidadari

Hari Jum’at kemaren bisa jadi merupakan hari paling melelahkan sepulang dari kantor. Betapa tidak, perjalanan pulang yang biasanya ditempuh dalam waktu 30-45 menit, kemaren tembus sampai 2 jam lebih. wuaahh… rekor ini. Dari kantor sebenarnya sudah merasakan hawa2 macet, soalnya setengah jam sebelum jam pulang, hujan sudah turun dengan derasnya. Tapi karena punya kewajiban menjemput Istri, mau gak mau harus pulang tepat jam 5. Sejak keluar dari tempat parkir, motorku sudah disambut dengan hujan deras yang membasahi bumi. Dengan hati2 kupacu motorku agar tidak selip.

Perjalanan ramai lancar seperti biasa sampai flyover senen. Kemacetan sudah panjang terlihat, mobil-mobil berjejer setengah rapi. “Ah.. mungkin macet karena lampu merah” gumamku. Tapi ada sedikit keganjilan, kok motornya ikut-ikutan macet nih, motor yang biasanya mampu meloloskan diri dari kemacetan dengan berlenggak-lenggok melalui sisa jalan sempit, kok ini gak bisa. Sejenak kupandang indikator sisa bensin, masih bisa 2 bar. “Ah, cukup kayaknya”. Sejengkal demi sejengkal motorku kupaksa untuk melaju hingga sampailah di Lampu merah.

Pemandangan tidak lazim, kesemrawutan terlihat dengan jelas. Mobil saling bersilangan, polisi tidak terlihat batang hidungnya. ” Wah kacau ini, gimana bisa jalan kalau begini.” Untungnya ada beberapa orang baik yang mau mengatur lalu lintas mobil layaknya seorang polisi. Selamat deh rintangan lampu merah pertama. Namun setelah itu keadaannya tidaklah menjadi lebih baik. Kemacetan sama parahnya dengan sebelumnya. Semua yang namanya kendaraan berhenti total, hanya sesekali berjalan itupun setelah menunggu 5 menitan. Tiba-tiba indikator bensinku terlihat berkedip-kedip. ” Wah tinggal sedikit nih”. Pola laju motor dengan tarik gas dan berhenti secara simultan nampaknya menguras penggunaan bensin.

Setelah melewati lampu merah kedua, perjalanan agak lebih lancar, motor bisa digeber walau dengan kecepatan 40 km/jam yang sebelumnya dapat kecepatan 10 km/jam aja sudah syukur. Tapi itu hanya berlangsung 1 menit, setelah itu macet lagi. Capek deh.. pinggang pegel, kaki pegel, mata pegel, untung saja motor gak ikut-ikutan pegel. Pingin rasanya berhenti menepi, sambil menunggu kemacetan berlalu. Tapi begitu ingat harus njemput istri akhirnya keinginan tersebut hilang begitu saja. Kulanjutkan perjalanan dengan motorku yang sudah berusia hampir setengah windu. Sejengkal demi sejengkal kupaksa motorku berjalan sampai akhirnya terlihat lampu merah perempatan Matraman dan Pramuka.

“Oo mungkin karena macet diperempatan tersebut, setelah lampu merah itu bakal lancar” Gumamku. Tapi setelah ditunggu 5 menit, 10 menit kok gak jalan-jalan juga. Bensin motor dah mau habis lagi. kekhawatiran mulai muncul, “Gimana nih kalau bensin habis padahal POM bensin masih jauh”. Setelah semakin mendekat dengan perempatan barulah ketahuan penyebab kesengsaraanku.

Banjiiiirrrrrrr……..

Yup.. banjir menggenang perempatan Matraman-Pramuka dengan kedalaman antara 30-100 cm. Daerah paling parah yang tergenang banjir adalah jalan yang menuju ke arah Pramuka, mungkin 100 cm, mungkin lebih. Tidak ada Kendaraan bermotor yang berani lewat. Kalau memaksakan lewat, pasti mati tuh mesinnya. Aku sendiri menuju ke arah Matraman-Jatinegara, diarah itu banjir menggenangi jalan sekitar 30-60 cm. Paling dangkal ada dijalan paling pinggir dekat trotoar, akibatnya semua pengemudi menepikan kendaraannya. Ada yang coba2 menerobos lewat tengah tapi dia tidak selamat, motornya mati, knalpotnya kemasukan air.

Aku sendiri berjalan pelan-pelan sambil sesekali melihat apakah air sudah masuk knalpot atau belom. “Kok makin dalam nih, wah bisa masuk nih air” Akhirnya kutancap saja itu gas motor, nekat aku. Tinggal beberapa meter lagi. Disetengah beberapa meter tadi motorku sempat mati sebentar walau hidup lagi. Aku cuek, terus saja kugeber itu motor sampai akhirnya selamat diseberang jalan..

“Alhamdulillah………. ” kataku..

Penderitaanku berakhir sudah, kutancap gas tuh motor, jalan begitu lengang, kosong melompong. Tapi kok motorku begitu berat tarikannya. Jangan-jangan karena bensinnya yang sudah sangat sedikit  nih atau karena kemasukan air tadi. “Ah biarin aja” terus kugeber itu motor sambil senantiasa berdoa agar tetap lancar jaya itu motor minimal sampai POM bensin.

“Alhamdulillah…… “  Allah memang Maha Penyayang hambanya. Sampai juga di POM bensin. Kuisi penuh tuh motor sebagai balas jasaku atas kegigihan dia mengantarku sampai POM bensin. Tidak lupa setelah itu kutelpon Istriku dan kujelaskan perihal kemacetan yang menimpaku. Ah. Istriku memang baik hati, tidak terdengar keluhan darinya mengapa sampai terlambat menjemput. Akupun jadi semangat tuk melanjutkan perjalanan menjemput istri tercinta. Dan Alhamdulillah atas karunia dari Allah kami berdua selamat sampai dirumah sekitar jam 19.30 WIB.

“Alhamdulillah Ya Allah, Segala puji hanyalah milik Engkau..”

Incoming search terms for the article:
menjemput bidadari (4), jalan ini sangat melelahkan ya Allah (1)
Ingin Berlangganan Informasi seputar news, tips trik dan tutorial blogging ? Silahkan masukkan email anda pada form berikut, kami akan memberitahu anda apabila ada informasi terbaru dari blog ini

10 Responses to “Perjalanan melelahkan tuk menjemput bidadari”

Leave a Reply